Kamis, 21 November 2019

Seuntai Kata Siswi MA Mambaul Ulum Ganding

THAYYUN NISA’ 
(I)
Perjalanan hidup memang berliku-liku dan penuh dengan cobaan. Mungkin dengan cobaan-cobaan itu bisa menjadi awal dari kesuksesan untuk menggapai apa yang selama ini kita perjuangkan.
Dalam kehidupan yang kita jalani memang tidak akan pernah lepas dari yang namanya ujian. Ujian tersebut bukanlah sebagai pelemahan terhadap jiwa kita, namun merupakan sebuah testimony untuk meraih predikat yang lebih tinggi. Allah SWT. Berfirman dalam Surat Al-Baqoroh ayat : 155 ;

Artinya: “dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”.
Saudari kita yang satu ini secara tidak langsung mengajak yang lain untuk sabar ketika ditimpa musibah atau cobaan. Sungguh kenikmatan yang tiada tara bagi mereka yang sabar.
Dalam Tafsir At-Thobary disebutkan bahwa sabar itu terbagi dua, yaitu (1) sabar untuk tidak melakukan maksiat kepada Allah (para mujahid). (2) Sabar dalam melakukan ketaatan kepada Allah (Ahli Ibadah). Ketika dua bentuk kesabaran ini kita miliki, maka Allah SWT. Akan memberikan sifat lapang dada (ridla) kepada kita. Ciri-cirinya bahwa kita sudah ridlo adalah tenangnya hati saat terbesit dalam jiwa tentang perkara yang dibenci dan disenangi.
Adapun menurut Ustadz Abu Ali ketika mengomentari tentang sabar, “batas sabar itu tidak menyalahkan takdir yang menimpa dirinya, bukan berarti ketika menampakkan  ujian pada orang lain dapat menghilangkan kesabaran kecuali dibarengi dengan rasa mengeluh”.



(II)
Merasa nyaman dan bahagia bersama seseorang tidak bisa dibeli dengan uang dan harta benda
Bahagia itu tidak harus kaya, karena ternyata banyak orang kaya yang tidak bahagia. Buktinya tidak sedikit yang stres dan bunuh diri dari golongan orang yang ber-uang. Bahagia juga bukan karena memiliki pasangan yang ganteng atau cantik, karena banyak yang pisah ditengah jalan padahal sama-sama ganteng dan cantik. Bahagia juga bukan karena memiliki jabatan tinggi, karena faktanya banyak para pejabat negara yang masuk jeruji besi.
Bahagia bukan terletak pada materi, melainkan ia terpatri dalam hati. Raga boleh miskin, tapi hati harus kaya. Pasti akan bahagia. Kaya dengan ilmu, sabar, dan berjiwa anfa’uhum lin-nas. Bahagia itu dapat hidup bersama dengan orang tercinta, baik keluarga ataupun sanak family dan kerabat serta tetangga. Sekali lagi, percuma ketika uang banyak tapi sebulan sekali baru ketemu anak. Sibuk di luar kota atau luar negeri selalu menjadi alasan untuk memasrahkan anak pada pembantu. Atau suami kerja jadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) sedangkan istri bersolek ria bukan untuknya, melainkan untuk tetangganya.
Sekali lagi kebahagian hidup bersama dengan orang yang kita cintai itu tidak  bisa ditukar dengan intan permata. Maka dari itu, sebagaimana pesan di atas utamakan keluarga. Jangan sibukkan dengan emosi diri.
 (III)
Lebih baik menderita
di atas kejujuran daripada bahagia di atas kebohongan
Sebenarnya maksud kalimat di atas bukan secara hakikat, itu hanya majaz mursal dengan I’tibar Ma Kana. Untuk bahagia memang butuh perjuangan, dalam artian harus menderita terlebih dahulu. Tidak mungkin tercapai cita-cita (untuk hidup  bahagia) jika hanya main-main dengan angan. Salah satu kunci kebahagian yang sejati adalah jujur dalam segala aspek walaupun kadang seakan-akan berbuah mengkudu ; pahit. Bahagia yang berawal dari dusta itu hanya semu belaka. Madu di awal, racun di akhir.
Buktinya saat kita berbohong ketika melakukan suatu kesalahan karena takut dihukum, selamatnya hanya sementara. Setiap detik pasti selalu dipocongi rasa bersalah atau tidak tenang. Padahal maksudnya agar selamat, tapi malah semakin jelimet. Berbeda dengan orang yang jujur atas kesalahannya. Anggap saja ia menderita saat mengaku, tapi setelah itu ia akan merasa lega karena sudah tidak ada rasa beban bersalah lagi yang bercokol di hatinya.
Dua hal ini (antara dusta dan jujur) tidak luput dari perhatian Rasulullah SAW. Beliau dalam beberapa kesempatan senantiasa menyinggung masalah kejujuran. Sebagaimana hadist yang termaktub dalam Kitab Makarimal Akhlaq, karangan Syaikh Abdullah Bin Muhammad Abu Bakar Al-Qurasyi Hal. 120 :   
قَالَ عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّهُ مَعَ الْبِرِّ وَهُمَا فِي الْجَنَّةِ وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّهُ مَعَ الْفُجُوْرِ وَهُمَا فِي النَّارِ
Nabi Bersabda : wajib atas kalian untuk berkata jujur, karena ia akan senantiasa bersama dengan kebaikan dan keduanya akan berada di surga. Dan takutlah untuk berbuat dusta, Karena hal itu dapat mendatangkan kehancuran dan keduanya ini akan berada di neraka.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SANTRI MUGA