THAYYUN NISA’
(I)
Perjalanan hidup memang berliku-liku dan penuh dengan cobaan.
Mungkin dengan cobaan-cobaan itu bisa menjadi awal dari kesuksesan untuk
menggapai apa yang selama ini kita perjuangkan.
Dalam kehidupan yang kita jalani memang tidak akan pernah lepas
dari yang namanya ujian. Ujian tersebut bukanlah sebagai pelemahan terhadap
jiwa kita, namun merupakan sebuah testimony untuk meraih predikat yang lebih
tinggi. Allah SWT. Berfirman dalam Surat Al-Baqoroh ayat : 155 ;
Artinya: “dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan
sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan
berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”.
Saudari kita yang satu ini secara tidak langsung mengajak yang lain
untuk sabar ketika ditimpa musibah atau cobaan. Sungguh kenikmatan yang tiada
tara bagi mereka yang sabar.
Dalam
Tafsir At-Thobary disebutkan bahwa sabar itu terbagi dua, yaitu (1) sabar untuk
tidak melakukan maksiat kepada Allah (para mujahid). (2) Sabar dalam melakukan
ketaatan kepada Allah (Ahli Ibadah). Ketika dua bentuk kesabaran ini kita
miliki, maka Allah SWT. Akan memberikan sifat lapang dada (ridla) kepada kita. Ciri-cirinya
bahwa kita sudah ridlo adalah tenangnya hati saat terbesit dalam jiwa tentang
perkara yang dibenci dan disenangi.
Adapun
menurut Ustadz Abu Ali ketika mengomentari tentang sabar, “batas sabar
itu tidak menyalahkan takdir yang menimpa dirinya, bukan berarti ketika
menampakkan ujian pada orang lain dapat
menghilangkan kesabaran kecuali dibarengi dengan rasa mengeluh”.
(II)
Merasa nyaman dan bahagia bersama seseorang tidak bisa dibeli dengan
uang dan harta benda
Bahagia itu tidak
harus kaya, karena ternyata banyak orang kaya yang tidak bahagia. Buktinya
tidak sedikit yang stres dan bunuh diri dari golongan orang yang ber-uang. Bahagia
juga bukan karena memiliki pasangan yang ganteng atau cantik, karena banyak
yang pisah ditengah jalan padahal sama-sama ganteng dan cantik. Bahagia
juga bukan karena memiliki jabatan tinggi, karena faktanya banyak para pejabat
negara yang masuk jeruji besi.
Bahagia bukan terletak pada materi, melainkan ia terpatri dalam
hati. Raga boleh miskin, tapi hati harus kaya. Pasti akan bahagia. Kaya dengan
ilmu, sabar, dan berjiwa anfa’uhum lin-nas. Bahagia itu dapat hidup
bersama dengan orang tercinta, baik keluarga ataupun sanak family dan kerabat
serta tetangga. Sekali lagi, percuma ketika uang banyak tapi sebulan sekali
baru ketemu anak. Sibuk di luar kota atau luar negeri selalu menjadi alasan
untuk memasrahkan anak pada pembantu. Atau suami kerja jadi Tenaga Kerja
Indonesia (TKI) sedangkan istri bersolek ria bukan untuknya, melainkan untuk
tetangganya.
Sekali lagi kebahagian hidup bersama dengan orang yang kita cintai
itu tidak bisa ditukar dengan intan
permata. Maka dari itu, sebagaimana pesan di atas utamakan keluarga. Jangan
sibukkan dengan emosi diri.
(III)
Lebih
baik menderita
di atas kejujuran daripada bahagia di atas kebohongan
Sebenarnya maksud kalimat di atas bukan secara hakikat, itu hanya majaz
mursal dengan I’tibar Ma Kana. Untuk bahagia memang butuh
perjuangan, dalam artian harus menderita terlebih dahulu. Tidak mungkin
tercapai cita-cita (untuk hidup bahagia)
jika hanya main-main dengan angan. Salah satu kunci kebahagian yang sejati
adalah jujur dalam segala aspek walaupun kadang seakan-akan berbuah mengkudu ;
pahit. Bahagia yang berawal dari dusta itu hanya semu belaka. Madu di awal,
racun di akhir.
Buktinya saat kita berbohong ketika melakukan suatu kesalahan
karena takut dihukum, selamatnya hanya sementara. Setiap detik pasti selalu dipocongi
rasa bersalah atau tidak tenang. Padahal maksudnya agar selamat, tapi malah
semakin jelimet. Berbeda dengan orang yang jujur atas kesalahannya. Anggap saja
ia menderita saat mengaku, tapi setelah itu ia akan merasa lega karena sudah
tidak ada rasa beban bersalah lagi yang bercokol di hatinya.
Dua hal ini (antara dusta dan jujur) tidak luput dari perhatian
Rasulullah SAW. Beliau dalam beberapa kesempatan senantiasa menyinggung masalah
kejujuran. Sebagaimana hadist yang termaktub dalam Kitab Makarimal Akhlaq,
karangan Syaikh Abdullah Bin Muhammad Abu Bakar Al-Qurasyi Hal. 120 :
قَالَ عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ
فَإِنَّهُ مَعَ الْبِرِّ وَهُمَا فِي الْجَنَّةِ وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّهُ
مَعَ الْفُجُوْرِ وَهُمَا فِي النَّارِ
Nabi Bersabda : wajib atas kalian untuk berkata jujur, karena ia
akan senantiasa bersama dengan kebaikan dan keduanya akan berada di surga. Dan
takutlah untuk berbuat dusta, Karena hal itu dapat mendatangkan kehancuran dan
keduanya ini akan berada di neraka.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar