PCNU Sumenep kembali
hadir memeriahkan hari santri (22 Oktober) dengan berbagai kegiatan dan
perlombaan yang melibatkan masyarakat dan pesantren sekabupaten. Ini
menunjukkan bahwa PCNU Sumenep sangat antusias menyambut hari santri dan ikhlas
mengabdi pada negeri lewat kegiatan dan perlombaan yang diadakan.
Kami, masyarakat
sekaligus santri di Kabupaten Sumenep menyambut bahagia adanya kegiatan
tersebut. Kami akan coba unjuk kemampuan diri dan bersaing dengan
pesantren-pesantren yang ada di kabupaten sumenep. Predikat sebagai pesantren kecil tidak menjadi penghalang untuk
meraih juara bersama pesantren-pesantren besar.
Kuantitas santri di PP.
Mambaul Ulum Ganding bagi kami bukan satu-satunya barometer kemajuan pesantren,
tapi kualitas santri dan pesantrennyalah yang menjadi pijakan. Kami akan
jadikan ajang perlombaan ini sebagai motivasi untuk lebih giat lagi belajar.
Juara bukanlah target utama, tapi berani tampil bersaing adalah wujud yang di
damba.
Kami tidak mau hanya
disebut santri yang “bagai katak dalam tempurung”. Kami ikut lomba untuk
mengasah kemampuan diri dan mengadopsi kemampuan dari peserta yang lain. Kami
sadar, di atas langit masih ada langit lagi. Pesantren tempat kami nyantri
sangat bangga dikala santrinya ikut ajang perlombaan meski juara tidak bisa dipersembahkan.
Akhirnya, kami dapat
menguasai perlombaan. Kami menyabet dua sekaligus dalam kategori perlombaan
baca kitab kuning. Dalam masing-masing kategori kami mampu menjadi juara kedua
dan ketiga. Alhamdulillah, air mata
bahagia membasahi tempat sujud syukur kami. Kami seakan-akan tidak percaya pada
kenikmatan Tuhan ini. Kami menjadi pesantren terbanyak menyabet juara dalam
bidang baca kitab kuning. Ternyata nama asing pesantren kami di mata juri
justru membuat peserta yang lain
bertanya-tanya seraya kurang percaya. Sama sekali tidak ada yang mengenali
pesantren kami. Bahkan ada yang berkata
“ternyata di daerah terpencil itu ada pesantren kalian ya?” Kantor PCNU
Sumeneplah yang menjadi saksi bersejarah itu.
Kunci keberhasilan kami
adalah restu dan doa pesantren, bukan semata-mata kemampuan yang dimiliki. Hasil
yang kami raih di Tahun 2017 ini sama sekali tidak membuat kami berbangga diri,
justru menjadi tantangan besar bagi kami kedepannya. Karena meraih predikat
juara itu jauh lebih mudah daripada mempertahankannya. Intinya kami terus
belajar, terus ngaji, dan terus mengabdi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar